IMPLEMENTASI DIFFERENTIATION DENGAN STRATEGI PROJECT-BASED LEARNING DENGAN TOPIK “HOUSE” DALAM MATA PELAJARAN SOCIAL STUDIES @ MERLION PRIMARY (1)   Leave a comment


Social Studies atau IPS adalah pelajaran yang membosankan bagi sebagian besar murid di sekolah. Imejnya, pelajaran ini penuh dengan hafalan fakta. Padahal, IPS adalah pelajaran yang sangat menarik. Sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dari IPS ini, siswa bisa banyak belajar hal-hal yang terkait langsung dengan kehidupan nyata, sekaligus belajar berpikir kritis dan kreatif. Untuk menghindari kebosanan, serta lebih menghargai proses belajar individu (differentiation), maka saya mengambil strategi belajar berbasis proyek (project-based learning) ketika mengulas topik “House” atau “Rumah”.

Tujuan belajar topik ini adalah memperkenalkan ide fungsi rumah kepada anak-anak kelas 3. Fungsi rumah sangat spesifik terkait dengan budaya masyarakatnya. Bahwa rumah secara struktur sangat berbeda karena fungsi yang diembannya berbeda pula secara kultural. Inilah yang kemudian memberi saya ide memperkenalkan mereka dengan rumah tradisional Indonesia. Tapi saya tidak mau menyuapi mereka dengan jenis-jenis rumah tradisional Indonesia untuk dihafal. Saya ingin mereka secara individual mengenal berbagai ragam rumah tradisional itu. Tidak masalah mereka tidak hafal semua rumah itu. Yang penting mereka kenal dan berusaha menggali sejauh mungkin informasi mengenai rumah tradisional Indonesia, serta percaya diri untuk menceritakannya kembali. Konsep belajar yang memberikan ruang kepada pembelajar untuk mengikat makna sejauh ia mampu ini namanya Differentiation, dan menurut saya, strategi belajar yang memungkinkan itu adalah project-based learning.

Proyek belajar ini diawali dengan Brainstorming tentang apa fungsi rumah dan kegiatan apa yang bisa dilakukan orang di dalam rumah. Dari brainstorming ini saya sebagai guru bisa tahu pengetahuan apa yang sudah anak punya tentang rumah, sekaligus melalui diskusi di kelas anak bisa mendapatkan pengetahuan baru langsung dari teman-temannya (buka dari saya!) tentang rumah.

Setelah itu saya lanjut dengan diskusi tentang jenis-jenis rumah yang mereka tahu di sekitar hidup mereka. Saya mencoba membandingkan jenis-jenis rumah di Surabaya dan Singapura (karena sekolah saya orientasi lulusannya nanti ke Singapura). Setelah itu, dilanjutkan dengan menganalisa secara singkat kelemahan dan kelebihan masing-masing jenis rumah, sesuai konteks kondisinya di Surabaya atau Singapura.

Setelah anak mendapatkan pengetahuan dasar tersebut di atas, mereka mulai membuat proyek tentang rumah tradisional Indonesia. Pengerjaan proyek ini memang dilakukan di rumah, dengan ekspektasi adanya bantuan orang tua, baik dalam pengerjaan produk ataupun pencarian informasi. Anak diharapkan hanya mau belajar mengetahui informasi untuk nantinya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam sebuah interview.

Di sinilah intinya Differensiasi itu terjadi. Dalam hal ini proses differensiasi yang terjadi adalah  Differentiation in Product, atau pembedaan dalam produk penilaian. Para siswa diberikan pilihan rumah tradisional yang akan mereka buat miniaturnya. Mereka bebas memilih dengan tujuan agar mereka lebih termotivasi mengerjakan proyeknya, karena rasa memiliki yang lebih besar. Inilah yang disebut Differentiation by Interest.

Sejak awal memang saya mendesain untuk tidak terlalu menilai bagus-tidaknya produk jadi karena adanya keterlibatan orang lain dalam pembuatan proyek tersebut. Penekanannya lebih kepada mencari tahu seberapa jauh anak berhasil mengetahui informasi terkait rumah miniatur yang menjadi pilihan proyeknya. Jadi, sejak awal memang saya tidak mengharapkan semua anak didik saya keluar dengan isi kepala yang sama, walaupun kerangka interviewnya seragam, yaitu:

a. Apa nama rumah yang mereka pilih?

b.Siapa kaum yang tinggal di rumah itu.

c. Di mana rumah ini secara tradisi berada.

d. Kegiatan apa yang dilakukan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

e. Bagaimana rumah itu dibuat (rumah miniatur itu dibuat).

Waktu pengerjaan proyek di rumah adalah seminggu, dengan pemberian dasar serta proses brainstorming sekitar 2 minggu. Pada jadwal yang ditentukan para siswa mengumpulkan rumah miniaturnya, dan menjalani interview secara bergiliran. Dan seperti yang saya duga, interview tersebut memunculkan respons yang beragam dan kadang lucu-lucu. Ada siswa yang protes karena merasa waktu yang saya berikan untuk interview terlalu singkat, karena ia merasa masih bisa memaparkan lebih banyak lagi informasi terkait rumah miniaturnya. Ada juga yang hampir tidak bisa menjelaskan apa-apa dan akhirnya mengaku bahwa mamanya yang 99% merancang serta membuat rumah miniature itu, sedang ia sendiri hampir tidak melakukan apa-apa. Ini membuat spektrum hasil assessment menjadi sangat variatif dan beragam, walaupun rubrik penilaiannya sangat simpel.

Yang menjadi penekanan di sini adalah mindset dan asumsi guru, dalam hal ini saya, sejak awal untuk tidak mengasumsikan ekspektasi yang sama dari para siswa. Sejak awal, saya berharap para siswa itu secara individu merekonstruksi pemahamannya sendiri tentang topik “House” tersebut. Saya hanya berusaha menjaga agar koridor belajar kami masih dalam batasan topik “House”. Saya berusaha membangun kompetensi yang sama, namun tidak secara spesifik seragam. Inilah saya kira pemahaman saya tentang pelaksanaan konsep Differensiasi dalam pembelajaran di sekolah. Berikutnya, saya akan memaparkan apa yang saya lakukan dengan kelas 4 di Merlion Primary, masih dalam mata pelajaran Social Studies.

Posted Februari 27, 2012 by rendraprihandono in pendidikan anak, Uncategorized

Dikaitkatakan dengan , , ,

Kalau Besar, Mau Jadi Apa?   Leave a comment


Kalau besar kamu mau jadi apa?

Begitu pertanyaan yang dilontarkan orang tua pada kita sewaktu kita masih kecil. Jawaban kita macam-macam. Jadi polisi atau dokter, itu jawaban mayoritas anak-anak kalau ditanya begitu. Terbatasnya kesan pekerjaan yang dikenal anak-anak menjadikan mereka tak punya banyak bayangan untuk dijadikan rujukan.

Saya dulu ingin jadi astronot. Itu karena saya suka sekali nonton serial Star Trek. Saya tergila-gila dengan Kapten Spock, keren rasanya bisa berpetualang di luar angkasa seperti dia.

Tapi ayah saya berpikir lain. Beliau selalu bilang,”Kamu harus jadi dokter. Papa ingin salah satu anak Papa jadi dokter.” Dan ayah saya mendidik saya begitu keras. Ekspektasi beliau sangat tinggi. Matematika tidak boleh di bawah 7, salah satunya. Yang membuat saya sering menangis karena takut. Takut karena nilai matematika saya tidak pernah lebih dari 4 atau 5. Paling bagus 6.

Tapi ketika tiba saat saya memilih jurusan di SMA, saya tidak memilih jurusan eksakta. Saya justru memilih jurusan sosial. Jadi, tidak mungkin saya akan jadi dokter. Ini pemberontakan pertama saya. Itu membuat ayah saya berubah pikiran. Beliau bilang,”Kamu masuk Ekonomi atau Hukum saja, biar gampang kerja!”. Tapi, dasar pemberontak, saya malah memilih berkuliah di jurusan Sosial Politik.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan ayah saya saat itu. Tapi saya move on saja dengan kuliah saya. Akhirnya saya lulus dengan indeks prestasi 3,17. Tidak buruk untuk anak jurusan sosial. Dan, setelah bekerja di beberapa bidang profesi, akhirnya saya menjadi guru seperti saat ini. Pilihan saya sebagai astronot akhirnya berpindah jalur jauh sekali, tapi anehnya, saya merasa bahagia. Di akhir hidupnya, akhirnya saya tahu bahwa ayah saya ternyata juga bahagia melihat saya menjadi “seseorang”. Walaupun “seseorang” versi saya bukan impian beliau dahulu.

Dan itulah masalahnya dengan pertanyaan “Kalau besar mau jadi apa?” itu. Saya menyadarinya sekarang. Setelah menjadi ayah dari dua anak, saya langsung berhadapan dengan situasi yang sama dengan ayah saya dulu. Intinya, ada sebuah kesenjangan generasi yang amat jauh, yang membuat kita sebagai orang tua mengsalahartikan peran kita dalam proses goalsetting anak kita.

Sering, kita menentukan masa depan anak kita. Kita merefleksikan apa yang mungkin menjadi gambaran ideal yang kita yakini sebagai sebagai “yang terbaik” bagi anak. Alasannya jelas, karena kita sudah “hidup lebih lama” atau “sudah banyak melihat dan mengalami” dari anak kita. Kita tidak ingin anak kita menempuh jalan yang kita lihat di masa lalu. Jalan yang tidak kita inginkan atau kita hindari.

Padahal, kita mungkin salah. Masa depan anak kita bukan seperti masa lalu kita. Jaman mereka sudah buka jaman kita lagi. Apa yang ada di masa kita, mungkin malah sudah tidak ada lagi saat ini. Nah, apalagi nanti di masa depan anak kita? Masa depan anak kita bahkan bukan refleksi yang kita lihat saat ini.

Masalah yang ada sekarang tidak lagi eksis di masa depan. Mungkin sudah teratasi, atau mungkin malah sudah lebih buruk, dan berevolusi menjadi masalah baru. Tantangan di masa kini tidak lagi menantang di masa depan. Akan ada tantangan baru yang kita tidak kenal di masa ini. Akan banyak pekerjaan dan profesi yang saat ini tidak kita kenal. Dan ini membutuhkan ketrampilan hidup yang mungkin saat ini tampaknya belum begitu dibutuhkan. Intinya, masa depan bukan sesuatu yang jelas bagi anak-anak kita. Ketidakpastian itulah satu-satunya hal yang pasti.

Yang pasti adalah, anak-anak kita harus siap dengan ketidakpastian itu sendiri. Bagaimana caranya? Kalau belum pasti, bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Sebenarnya bukan 100% tidak pasti, menurut saya.

Seperti apa yang saya katakan di atas, apa yang ada di masa depan adalah evolusi dari elemen-elemen yang ada sekarang. Ponsel jaman sekarang embrionya sudah ada belasan tahun yang lalu. Yang tidak kita antisipasi adalah seberapa jauh kemajuannya ternyata mengimbas pada lebih banyak aspek dalam hidup kita. Bisnis online di masa sekarang mungkin akan tetap ada di masa depan, hanya mungkin kita belum bisa mengantisipasi dampak dan peluang yang mendampinginya. Jadi, bukan 100% out of nowhere.

Dengan demikian, ada hal-hal yang bisa kita persiapkan mulai sekarang. Apa itu? Ketrampilan hidup. Kemampuan dasar untuk bertahan di era apapun, bahkan yang tidak pasti sekalipun. Ketrampilan hidup akan menentukan bagaimana anak kita bisa memposisikan dirinya dan mengambil peluang sekecil apapun untuk bertahan hidup dan mengambil manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupannya di masa depan.

Inilah yang luput dari perhatian kita sebagai orang tua. Kita sibuk mendorong anak kita menguasai content yang tidak semuanya akan efektif di masa depan, dan melupakan untuk menanamkan ketrampilan hidup yang justru lebih mendasar. Sekolah-sekolah kita pun melakukan hal yang sama. Memaksa anak berorientasi pada kekinian. Meraih kejayaan masa kini. Parahnya, ini dilakukan dengan asumsi bahwa kejayaan masa kini adalah “jaminan” masa depan.Ironis, bukan?

Nah, saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa bukan tugas kita, orang tua, untuk menentukan anak kita mau jadi apa ketika ia besar nanti. Asal masih positif dan sesuai nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan, dukung saja ia mau jadi apa. Toh, ia mungkin tidak akan jadi apa yang ia cita-citakan sekarang, karena masa depan penuh ketidakpastian, bukan? Tidak usah repot-repot mendorong ingin jadi apa, yang penting bekali dia agar apapun pilihannya ia tidak akan kehilangan kendali atas dirinya dan mampu memaksimalkan potensinya. Dan yang lebih penting, ia akan tetap menjadi manusia seutuhnya, di dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Orang yang mampu bertahan dalam ketidakpastian, tetap punya arah ketika semuanya tidak pasti, itulah orang yang sukses sejati. Bukankah itu yang sebenarnya kita idam-idamkan?

Cara Mendesain Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-oriented   Leave a comment


Tulisan ini menyambung tulisan saya sebelumnya,”Mungkinkah Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-Oriented?”. Di sana saya menyatakan, mungkin saja melakukan student-centred approach di sekolah berorientasi ujian tulis dan nilai, meskipun pasti tidak maksimal. Nah, terus caranya bagaimana?

Berikut, saya akan coba berbagi pengalaman yang mungkin bisa Anda pakai di kelas. Tentunya dengan penyesuaian sesuai kondisi kelas Anda.

  1. Sedapat mungkin desain aktivitas belajar Anda dengan memperhatikan gaya belajar anak yang berbeda-beda. Memperhatikan gaya belajar anak bukan berarti Anda mendesain satu rencana dengan berbagai alternatif dalam satu pertemuan. Kalau bisa sih bagus, luar biasa. Saya saja belum bisa seideal itu. Paling tidak, buat variasi dalam setiap kali pertemuan kelas. Jangan melulu ceramah, atau melulu bermain games, atau melulu membaca. Jangan monoton, anak akan bosan. Dan juga, akan kabur sebenarnya tujuan pembelajaran Anda itu apa. Variasi di setiap pertemuan berbeda akan membuat anak dengan gaya belajar tertentu merasa nyaman saat itu, dan berusaha untuk tetap merasa nyaman di pertemuan berikutnya.
  2. Atur agar atmosfir kelas membuat anak nyaman mengungkapkan pendapat atau (yang lebih penting) bertanya. Anak berani mengungkapkan pendapat dan bertanya adalah indikator utama telah berjalannya Student-centred Approach di sekolah Anda. Berani bertanya akan menggiring arah pembelajaran menjadi dinamis, dan menggali banyak hal (yang, percaya atau tidak, akan mengarah pada content kurikulum). Sedangkan berani mengungkapkan pendapat akan membangun suasana dialogis yang sehat, yang kelak memunculkan ide-ide baru guna mendukung pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibangun sebelumnya.
  3. Lakukan pembelajaran kolaboratif (Collabortive Learning). Belajar bersama secara kolaboratif akan memunculkan nilai-nilai kerjasama serta membuka peluang munculnya ide-ide baru yang luas, karena dihasilkan oleh banyak kepala.Suasana pembelajaran menjadi dialogis dua arah dan tidak didominasi guru saja. Dominasi dialog yang didominasi guru adalah ciri dari teacher-centred learning, dimana guru memegang kendali arus informasi secara total.
  4. Desain pembelajaran harus memperhatikan Taksonomi Bloom. Menempatkan siswa di pusat pembelajaran berarti kita harus membangun daya kritis dan kreatifitas siswa sebagai pembelajar. Disinilah peran Taksonomi Bloom. Level berpikir yang diuraikan Taksonomi Bloom akan mengeksplorasi pola pikir anak didik kita agar tidak sekedar menghafal informasi. Tapi yang lebih penting adalah mengolah informasi dan mempergunakannya lebih jauh untuk menghasilkan buah pemikiran baru.
  5. Batasi peran guru sebagai sumber informasi tunggal. Menempatkan siswa di pusat pembelajaran berarti kita bukan lagi sumber informasi tunggal yang harus dirujuk oleh mereka. Kita lebih berperan sebagai stage manager, orang yang mendesain agar anak lebih berperan aktif. Berperan aktif dalam belajar berarti sungguh-sungguh menggunakan alat belajar, misalnya membaca, bertanya, berdiskusi, membuat kesimpulan, berbagi informasi dan lain sebagainya. Guru berusaha membuka jalan bagi siswa untuk mendapatkan sumber informasi baru sehingga siswa memiliki banyak alternatif untuk mempelajari hal-hal baru. Jadi, guru berperan mendesain wadah di mana siswa yang nantinya secara langsung melakukan pembelajaran itu sendiri.
  6. Penekanan assessment selama proses belajar adalah Assessment FOR Learning dan bukan Assessment OF Learning. Penilaian formatif lebih dikedepankan daripada penilaian sumatif. Ujian tulis adalah penilaian sumatif yang dilakukan di akhir proses belajar, dan itu menjadi tujuan bagi sekolah yang berorientasi ujian tulis (exam-oriented). Namun toh, selama anak belajar, guru harus menekankan pemberian masukan yang bermakna agar siswa tahu dan sadar benar dimana posisinya dalam proses. Masukan yang bermakna akan membangun pemhaman yang nantinya akan diuji secara tertulis di akhir semester. Masukan bermakna inilah yang media dan tujuannya harus untuk membangun pemahaman belajar bukan menguji seberapa banyak informasi yang dimiliki siswa. Hal yang terakhir ini akan dilakukan nanti di ujian tulis di akhir pembelajaran.
  7. Terakhir, sekali lagi harus diingat, PROSES menentukan HASIL. Walaupun toh nantinya anak harus menjalani ujian atau ulangan sebagai penguji akhir, namun yang menentukan bagaimana performa anak itu kelak adalah proses belajarnya saat ini. Guru tak akan bisa mengeksplorasi soal-soal ujiannya, bila dalam proses anak juga tidak bisa mengeksplorasi banyak hal untuk dipelajari. Minimnya eksplorasi selama proses berujung pada soal-soal ujian yang berkutat pada menguji hafalan informasi, bukannya mendorong anak mengekspresikan apa yang ia tahu secara panjang lebar. Kedalaman pemahaman anak tidak akan benar-benar diuji secara tertulis bila dalam proses belajar ia juga tidak mengeksplorasi apa-apa.

Mungkinkah Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-oriented?   Leave a comment


Adalah sebuah dilema ketika kita menyadari bahwa pendidikan kita sudah memasuki abad 21 di mana kompetensi akademik saja tidak cukup membuat anak didik kita memiliki peluang bertahan hidup. Abad 21 menyediakan berbagai ketidakpastian: pekerjaan yang di masa sekarang belum ada, serta permasalahan-permasalahan yang saat ini belum terpikirkan. Peluang dan ancaman yang tidak jelas ini menuntut lebih dari sekedar anak pintar, namun menuntut anak yang cerdas.

Cerdas berarti sanggup beradaptasi dengan ketidakpastian. Sanggup mencari pemecahan masalah secara kreatif walaupun kemungkinannya sangat kecil. Sanggup memutar dan mencari jalan lain ketika jalan yang dilalui mentok. Dan mampu menguasai diri ketika semua alternatif penyelesaian sudah tak lagi eksis.

Sudah banyak panduan mengenai praktik belajar-mengajar apa yang cocok dalam mempersiapkan anak menghadapi abad 21 ini. Namun harus diakui, masih terlalu banyak pihak-pihak yang keras kepala dan menganggap model yang saat ini berlaku masih sangat relevan menghadapi tantangan jaman.

Saya tak hendak mengajak Anda mendebatkan hal ini. Saya hanya ingin berbagi mengenai bagaimana kita harus bersikap ketika pandangan yang sangat ideal ini berhadapan dengan sistem yang sudah sangat mapan, di mana sekolah berorientasi pada ujian, di mana keberhasilan pendidikan di sekolah diukur dengan pencapaian target nilai oleh peserta didik. Pertanyaannya adalah “Mungkinkah menggunakan pendekatan Student-centred Approach dalam sekolah yang berorientasi pada nilai dan ujian tulis?”.

Mengapa student-centred approach? Student-centred approach, atau pembelajaran berpusat pada siswa adalah model yang saya yakin pas untuk mengembangkan anak agar siap menghadapi abad 21. Dengan menempatkan anak sebagai pusat dari siklus pembelajaran, maka yang penting dalam proses belajar adalah anak itu sendiri, bukan target ketercapaian kurikulum atau kelulusan sekolah sebagai hasil akhir.

Masalahnya, dengan berorientasi pada exam atau ujian tulis, apakah mungkin anak kemudian menjadi pusat dari kegiatan belajar-mengajar? Idealnya tidak, itu sudah jelas. Mengejar target kurikulum tidak akan mempedulikan posisi anak. Walaupun para pelaku sistem ini selalu berkilah bahwa kepentingan anak diasumsikan sudah terpetakan di dalam setting kurikulum, sehingga ketercapaian target kurikulum diasumsikan sama dengan keberhasilan terukur pendidikan seorang anak di sekolah. Namun saya yakin bahwa pencapaian itu sifatnya parsial. Nilai ujian tulis memang bertindak sebagai indikator pencapaian belajar anak. Namun tidak bisa dijadikan acuan keberhasilan proses belajar anak. Dengan perbedaan konseptual seperti ini mungkinkah keduanya dikerangkakan bersama?

Jawabannya, mungkin, walaupun tidak ideal.

Saya ingin berbagi sedikit hal yang baru saja menjadi bahan diskusi gayeng saya dengan mantan staf ahli Ministry of Education Singapura, Mr. Koh Boon Long dalam kunjungannya ke sekolah saya baru-baru ini. Mr. Koh menekankan hal-hal berikut yang bisa Anda lakukan di sekolah masing-masing:

1. Inti dari student-centred approach yang bisa dipraktikkan di kelas adalah membangun kebiasaan bertanya. Bertanya akan memicu anak untuk berpikir aktif.

2. Mau bertanya tidak bisa dibangun dengan “menyuruh anak didik untuk bertanya”. Tapi dengan guru memancing anak-anaknya untuk bertanya. Mulailah pelajaran dengan apersepsi yang aktif dan provokatif bagi anak sehingga keingintahuannya timbul, dan mau bertanya.

3. Guru harus menjaga agar atmosfir kelas ramah bagi anak-anak agar berani bertanya. Banyak strategi yang bisa dipakai. Misalnya dengan memulai pelajaran menggunakan teknik curah pendapat (brainstorming), Think-Pair-Share, dan lain-lain.

4. Kurangi dominasi guru aktif berbicara. Kendalikan diri Anda agar tidak menguasai jalannya pembicaraan di kelas. Berpanjang lebarlah ketika menyampaikan instruksi, namun berikan ruang seluas-luasnya kepada siswa agar mau mengekspresikan opini.

5. Buku teks masih dipakai sebagai rujukan, namun jangan langsung terjun ke buku teks untuk mencari jawaban benar. Merujukkan hasil curah pendapat (brainstorming) para siswa dengan referensi buku teks akan lebih bermakna bagi siswa Anda.

6. Bersiaplah dengan kemungkinan waktu pembahasan sedikit lebih panjang dibandingkan dengan Anda langsung terjun menjelaskan materi. Hindari sedapat mungkin menjadikan diri Anda sebagai sumber informasi satu-satunya.

7. Bila Anda menugaskan proyek, pastikan ekspektasi Anda dipahami anak-anak, dan mereka melakukan aktifitasnya merujuk pada panduan Anda. Termasuk di dalamnya tenggat waktu pengerjaaan proyek dan bagaimana proyek itu akan dinilai. Jelaskan semua itu di awal Anda memberikan proyek. Ingat, pembelajaran berbasis proyek bukan sekedar bermain dan beraktifitas!

Demikian poin-poin hasil diskusi saya dengan Mr. Koh Boon Long mengenai peluang melakukan student-centered approach di lingkungan sekolah berorientasi ujian tulis. Semoga bisa menginspirasi. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

Posted Januari 11, 2012 by rendraprihandono in kurikulum nasional

Dikaitkatakan dengan , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.